Feeds:
Tulisan
Komentar

Rahasia Dipercaya

Saya adalah penggemar berat kisah tiga kerajaan (san guo yan yi atau sam kok). Memang versi yang saya baca adalah karya Luo Guanzhong. Versi ini sangat menekankan kepahlawanan Liu Bei. Dalam kisruh di akhir kerajaan Han (190-220 M) muncullah pahlawan-pahlawan besar di tanah tiongkok. Melalui pergulatan hebat terciptalah 3 kerajaan : Wei yang didirikan oleh Cao Cao, Wu yang didirikan oleh Sun Quan, dan Shu yang didirikan oleh Liu Bei. Periode 3 kerajaan (220-280) diakhiri dengan dipersatukannya Cina oleh Dinasti Jin.

Yang membuat saya merenung adalah pribadi Liu Bei. Ketika Cao Cao sudah menjadi pejabat di Istana, dan keluarga Sun sudah memperoleh daerah kekuasaan di tenggara Cina, Liu Bei adalah tukang sandal. Ketika Cao Cao sudah mengkonsolidasikan kekuatan di utara, dan Sun Quan sudah menguasai seluruh wilayah di selatan sungai kuning, Liu Bei masih dikejar-kejar di kota kecil Xin Ye. Tetapi akhirnya Liu Bei bisa mengimbangi kedua kekuatan itu. Tentu saja Liu Bei punya jendral-jendral yang hebat – kelima jendral harimau, Guan Yu, Zhang Fei, Zhou Yun, Huang Zhong, Ma Chao, dan ahli strategi terbaik di jaman itu, Zhuge Liang sang naga tidur. Tetapi kekuatan Liu Bei nampaknya adalah kemampuannya untuk mendapat kepercayaan dari setiap orang yang bertemu dengannya.

Liu Bei memenangkan hati Guan Yu dan Zhang Fei di awal petualangan mereka dengan kepercayaan. Liu Bei untuk pertama kalinya menjadi pejabat tinggi – Gubernur propinsi Xu, karena kepercayaan Tao Qian. Pahlawan Zhou Yun mencari Liu Bei untuk mengabdi, setelah tuannya Gongsun Zan meninggal, karena percaya kepada Liu Bei. Liu Bei kembali menjadi pelindung propinsi Jing, setelah kehilangan propinsi Xu, karena dipercaya oleh Liu Biao. Liu Bei mendapatkan ahli strategi terhebat Zhuge Liang, karena merebut kepercayaan hatinya. Rakyat kota Xin Ye bersedia mengungsi dan mengikut ke mana pun Liu Bei pergi, karena percaya. Akhirnya Liu Bei punya cukup kekuatan di selatan untuk kemudian mendobrak ke Barat dan mendirikan Shu.

Tidak ada modal pasukan, tidak ada modal jabatan, tidak ada modal kekayaan. Liu Bei berhasil berpetualang di tengah kekacauan Dinasti Han, dan mendirikan Dinasti Shu, hanya karena bisa dipercaya.

Dari kisah tiga kerajaan, terutama figur Liu Bei, saya belajar bahwa untuk bisa dipercaya seseorang harus memiliki 4 C (4 K):

1. Cleanness (kebersihan hati). Elemen ini memberi ruang yang nyaman untuk setiap orang yang berhubungan dengan kita. Ini berkaitan dengan kejujuran dan niat yang tulus. Liu Bei hidup dengan ketulusan kepada setiap orang, bahkan dengan orang-orang yang dipandang jahat oleh masyarakat. Lu Bu, jendral terkuat jaman itu, adalah pribadi yang suka berkhianat. Meski demikian Liu Bei memberi tumpangan kepadanya di wilayah propinsi Xu. Untuk menerima jabatan gubernur Xu, Liu Bei harus didesak berkali-kali oleh Tao Qian, karena Liu Bei menganggap pertolongannya kepada Tao Qian adalah sebagai sahabat dan bukan untuk mengambil jabatan gubernur. Liu Bei didesak berkali-kali oleh Liu Biao untuk menjadi gubernur Jing, tetapi ditolaknya karena Liu Bei hanya ingin membantu melindungi propinsi itu. Kebersihan niat membuat orang merasa aman dan nyaman bersama dengan kita dan itu adalah modal awal untuk mendapat kepercayaan.

2. Compassion (kepeduliaan). Elemen ini menebarkan kehangatan bagi orang-orang di sekitar kita yang dalam keadaan sulit, sehingga kita menjadi sahabat bagi orang-orang di tengah kesulitan mereka. Liu Bei sangat terkenal akan kepeduliannya saat pengungsian dari kota Xin Ye. Rakyat yang takut akan keganasan pasukan Cao Cao ikut mengungsi bersama gerak mundur pasukan Liu Bei. Akibatnya, pasukan berjalan lambat. Tetapi Liu Bei justru berkata : “Apalah artinya penguasa tanpa rakyat? Mereka sudah sepenuh hati mengikuti kita, mana mungkin aku tega membiarkan mereka tanpa perlindungan.” Liu Bei mengabaikan saran para jendral dan penasehatnya untuk meninggalkan rakyat. Kerugian besar memang dialaminya, tetapi dari situlah pondasi kerajaannya kokoh. Rakyat mendukung Liu Bei. Kadang-kadang kita merasa bahwa jalan terbaik untuk menjadi sukses adalah dengan memenuhi semua keinginan kita. Tetapi jalan terbaik untuk sukses adalah dapat dipercaya. Dan untuk dapat dipercaya, kita harus belajar untuk peduli pada kesulitan orang lain, bukan kesulitan kita sendiri.

3. Courage (keberanian). Elemen ini adalah faktor aktif yang menunjukkan bahwa kita serius menangani keadaan. Keberanian adalah kemampuan untuk maju ke depan dan menerima tanggung jawab, ketika orang lain masih ragu-ragu dan ingin menyelamatkan diri sendiri. Liu Bei tidak memikirkan latar belakang tukang sandalnya, tetapi ketika negara digempur oleh pemberontakan sanggul kuning Zhang Jiao, Liu Bei membentuk tentara sukarela dari kampungnya. Hasilnya dua pahlawan besar Guan Yu dan Zhang Fei mengangkat saudara dengan Liu Bei. Tak terhitung berapa banyaknya pertempuran yang dimenangkan karena dua pahlawan besar ini. Saat Cao Cao menggempur propinsi-propinsi selatan dengan hampir 1 juta pasukan, Liu Bei yang hanya memiliki 20 sampai 30 ribu pasukan menunjukkan perlawanan. Hal ini membuat Sun Quan, yang juga hanya memiliki 80 ribu pasukan bergabung dengan Liu Bei, dan bersama mereka mengalahkan Cao Cao di pertempuran tebing merah. Keberanian anda akan menarik perhatian orang, dan menggerakkan hati pahlawan yang lain. Keberanian adalah modal untuk mendapat kepercayaan.

4. Commitment (kesungguhan). Elemen ini adalah pembuktian kepada orang lain terhadap kualitas kepribadian anda. Liu Bei memenangkan hati Zhuge Liang dengan berkunjung hingga 3 kali, termasuk berkunjung di tengah badai salju. Liu Bei tahu bahwa orang sekualitas Zhuge Liang tidak akan dapat dibujuk dengan harta atau ditakut-takuti dengan pedang. Liu Bei memenangkan kepercayaan penasehat perang terbaik dengan menunjukkan kesungguh-sunguhannya. Betapa sering kita hanya menghitung kompensasi materiil atas pekerjaan kita, tanpa mengerti bahwa pekerjaan sekecil apapun yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan diperhatikan oleh orang lain. Mereka akan menjadi percaya akan kualitas kepribadian anda.

Keempat elemen ini : cleanness (kebersihan hati), compassion (kepedulian), courage (keberanian), dan commitment (kesungguhan) secara bersama-sama adalah kunci untuk membentuk trust (kepercayaan) orang lain terhadap anda.

Jika seseorang sudah mendapatkan kepercayaan maka terbukalah baginya 3 kotak hadiah:

1. Chance (Kesempatan). Orang yang dipercaya akan diberi kesempatan pertama. CEO General Electric, Jack Welch pernah berujar, jika harus memilih antara orang yang pintar atau orang yang jujur, saya akan memilih yang jujur. Liu Bei berulang kali mendapat kesempatan, dan berulang kali juga diselamatkan oleh orang, karena dipercaya.

2. Credibility (Nama Baik). Orang yang dipercaya, namanya saja sudah cukup untuk menjadi jaminan bagi orang lain. Nama adalah aset termulia dalam kehidupan kita di bawah langit. Membangun nama membutuhkan waktu yang panjang dan itu membutuhkan kemampuan untuk membuat orang percaya. Menghancurkan nama hanya butuh satu hari, dan caranya adalah dengan mengkhianati kepercayaan orang. Betapa sering kita lupa bahwa orang selalu mencatat riwayat perjalanan kita, dan setiap perbuatan kita akan dinilai apakah kita termasuk orang yang dapat dipercaya atau tidak. Liu Bei mendapatkan banyak jendral hebat dan penasehat sipil yang cerdas karena namanya harum.

3. Credit (Penghargaan). Orang yang dipercaya akan mendapat hadiah. Kalau yang memberi hadiah mampu, barangkali hadiah itu dapat berupa jabatan, modal, kekuasaan, kekuatan, dan dukungan. Kalau pun yang memberi hadiah tidak mampu, hadiah itu akan berupa rekomendasi. Mungkin saja anda merasa, saya sudah berusaha dipercaya tetapi tidak mendapat kompensasi yang sepadan; tetapi anda barangkali lupa, bahwa orang melihat dan mencatat kualitas anda, dan akan bercerita tentang anda. Siapa tahu justru rekomendasi atau cerita orang-orang yang percaya pada anda inilah yang akan memperkenalkan anda dengan kesempatan dan figur yang tepat untuk mengangkat potensi maksimal anda. Sikap Liu Bei yang sangat peduli pada rakyat, menggetarkan hati Sima Hui – guru besar Tao pada jaman itu – dan Xu Shu, seorang sahabat Zhuge Liang. Mereka tidak dapat menolong Liu Bei tetapi mereka merekomendasikan Liu Bei pada Zhuge Liang. Dengan rekomendasi ini, Liu Bei berkenalan dan memenangkan hati Zhuge Liang. Bersama Liang, Liu Bei seperti macan yang tumbuh sayap. Mereka mendirikan dinasti Shu.

Jadi ada 3 hadiah bagi orang yang dapat dipercaya : chance (kesempatan), credibility (nama baik), dan credit (penghargaan).

Tetapi tentu saja trust (kepercayaan) harus memiliki pendamping agar tidak pincang. Pendamping yang paling ideal adalah competency (kemampuan). Nah inilah yang juga harus kita latih agar kepercayaan orang kepada kita menjadi semakin maksimal, karena kita memiliki kemampuan yang sepadan dengan karakter kita yang luhur. Kemampuan ini meliputi dua hal :

1. Kemampuan sosial (social competence), yaitu teknik-teknik untuk menggunakan sumber daya lingkungan, seperti kemampuan kepemimpinan, kemampuan negosiasi, kemampuan berbicara di depan umum, dan juga kemampuan bergaul dan memenangkan teman.

2. Kemampuan mencari solusi (solution competence), yaitu teknik-teknik untuk menemukan jawaban atas masalah-masalah yang sedang dihadapi, seperti kemampuan strategi dan taktik, kemampuan teknik praktis, kemampuan menemukan penasehat dan orang bijak, dan kemampuan manajerial untuk melaksanakan rencana.

Dengan trust (kepercayaan) yang dikombinasi competence (kemampuan) maka anda adalah harimau dengan sayap seperti Liu Bei. Tidak peduli seberapa lemah kondisi anda sekarang, anda akan dapat mencapai cita-cita mulia yang anda impi-impikan.

Salam kepercayaan,

Ary Nugroho

Kisah Layang-Layang

Sebuah layang-layang dibuat dengan sangat indah. Rangkanya dari bambu pilihan yang diserut sangat halus. Tubuhnya dari kertas minyak berkualitas, membuatnya terbang meliuk-liuk dengan anggun. Hiasan-hiasan pun tak kurang, sungguh mempercantik dirinya. Layang-layang ini indah dan terbang tinggi.

Tetapi pada ketinggian hidupnya, layang-layang ini merasa tidak puas dengan benang pengikat dirinya. Dia ingin tali ini lepas, agar bisa pergi ke manapun dia suka.

Keputusan diambil. Diputuskannya hubungan dengan benang yang dipegang oleh tuan pembuat dirinya. Sesaat dirinya merasa bebas. Tetapi sejenak kemudian, angin deras mulai menderu, menghempas dirinya. Dia mencoba mengangkat dirinya naik lagi, tetapi angin itu terus menyeretnya turun. Terhunjam jatuh, layang-layang ini meluncur menuju jalan raya yang padat kendaraan dan berakhir diinjak-injak oleh mobil yang sedang lalu lalang.

Betapa sering dalam kehidupan ini, kita ingin mendapatkan kebebasan absolut. Bebas yang sebebas-bebasnya. Tetapi benarkah ada kebebasan di dalam bebas yang sebebas-bebasnya itu? Jangan-jangan kita justru berakhir seperti layang-layang yang putus dari benangnya.

Benang kehidupan kita adalah nilai-nilai luhur yang membuat kita menjadi manusia dengan identitas prinsipiil yang kuat. Mungkin ini adalah nilai-nilai yang telah kita dengar dari kanak-kanak, tetapi mungkin juga nilai-nilai ini ditegurkan kepada kita saat dewasa oleh orang-orang yang menyayangi kita.

Nilai-nilai luhur itu tersemi, bertumbuh dan berakar pada kesadaran nurani kita, layaknya penghubung antara kita sebagai ciptaan, dengan sang Khalik, pencipta hidup kita. Dengan nilai-nilai luhur itu, sang Khalik membimbing kita terbang menuju panggilan hidup yang menjadikan kita bintang pancaran terang bagi sesama.

Sayang kita sering merasa tidak membutuhkan lagi nilai-nilai luhur itu. Kita lebih senang yang memberikan hasil instan. Kita lebih senang berpikir untung rugi secara pragmatis praktis. Apapun benar jika menguntungkan. Tetapi apakah yang menguntungkan itu langgeng? Atau jangan-jangan hanya kebebasan sesaat layaknya layang-layang putus yang sejurus kemudian dihempas oleh angin?

Tanpa prinsip, manusia kehilangan identitas. Manusia tanpa identitas hanya akan menyerahkan dirinya untuk dikendalikan oleh “angin liar”.

1. Angin liar perasaan. Manusia tanpa prinsip hidup yang kuat akan menuruti perasaan hatinya dalam mengambil keputusan-keputusan. Sialnya, perasaan itu terkadang menipu. Cobalah kita mengambil keputusan ketika sedang jatuh cinta. Wah terasa sulit sekali untuk tidak memihak orang yang kita cintai bukan? Itulah perasaan. Dan bagaimana kalau kita terus menerus dikendalikan oleh perasaan? Hidup kita dan keputusan-keputusan kita mudah diombang-ambingkan. Perasaan bisa berganti dalam sekejap, padahal akibat keputusan kita akan membawa akibat jangka panjang.

2. Angin liar keadaan. Manusia tanpa prinsip hidup yang kuat akan membiarkan keadaan mendikte keputusan-keputusannya. Lihat sajalah adik-adik kita yang suka tawuran. Mereka seketika jadi beringas dan jagoan, ketika sorak-sorai teman-temannya berdengung di sekitarnya. Tapi apa yang terjadi ketika mereka sendirian? Tak ubahnya seperti “tikus dalam perangkap”. Nyali mereka seketika ciut. Hidup yang didikte oleh keadaan akan sangat terombang-ambing.

3. Angin liar pendapat orang. Manusia tanpa prinsip hidup yang kuat akan membiarkan dirinya dikendalikan oleh pendapat orang. Kita pernah mendengar fabel tentang ayah, anak dan keledai. Mereka berjalan melewati satu kampung ke kampung lain yang berbeda pendapat tentang bagaimana caranya berjalan bersama. Ada yang bilang keledai harus dinaiki berdua. Ada yang bilang harusnya dinaiki ayah saja. Ada yang berkata harusnya anak yang naik. Mungkin pula kalau ditanya, ada yang akan berkata sebaiknya keledai itulah yang digendong oleh ayah dan anak. Sungguh menggelikan nasib orang yang membiarkan dirinya dikendalikan oleh pendapat orang. Tetapi betapa sering kita menjadi yang demikian.

4. Angin liar logika satu arah. Manusia tanpa prinsip hidup yang kuat akan mengabaikan gambar besar dan melihat secara sempit. Secara logika sangat benar bahwa tidak punya uang, tidak bisa membeli barang. Tidak bisa membeli barang, tidak bisa memenuhi kebutuhan. Tidak bisa memenuhi kebutuhan, tidak bahagia. Jadi tidak punya uang, tidak bahagia, sebaliknya punya uang, bahagia. Alhasil berbondong-bondonglah orang menjadi pengejar uang, sehingga mengabaikan banyak hal penting lainnya seperti kerohanian, keluarga, kesehatan dan persahabatan. Jika kita bersedia untuk melihat gambar besar kehidupan, maka kita akan menyadari bahwa kebahagiaan ditentukan oleh begitu banyak hal berharga yang tidak bisa dibeli oleh uang. Uang seharusnya hanya menjadi alat dan bukan tujuan. Nah, hal yang demikian barulah salah satu contoh, betapa tanpa prinsip hidup yang kuat, logika kita hanya akan terpancang pada satu arah saja sehingga tidak bisa melihat gambar besar kehidupan itu sendiri.

Oleh karena itu marilah kita kembali berpikir. Apakah kita sering merasa kehidupan kita terlalu naik turun, seperti roller coaster yang membuat kita mual dan tidak nyaman? Jangan-jangan kita sedang membiarkan angin liar mengendalikan diri kita, karena kita menolak benang prinsip mengikatkan kita kepada hal-hal yang mulia dalam diri sang Khalik.

Selalu ada hal-hal mulia untuk dipertahankan dalam kehidupan kita. Hal-hal yang membuat kita tidak dapat dibeli, tidak dapat digoda, dan tidak dapat diintimidasi. Bahkan ada hal-hal mulia yang terkadang harus dipertahankan sampai mati, sebagai suri teladan bagi generasi selanjutnya.

“Jika seseorang tidak memiliki sesuatu yang rela diperjuangkannya sampai mati,

Dia tidak layak untuk hidup”

- Martin Luther King, Jr.

Benang prinsip mengikat kita bukan untuk membatasi kita, tetapi untuk memandu kita agar dapat terbang tinggi tanpa terseret oleh angin liar.

Salam keberanian,

Ary Nugroho

Cincin Percaya Diri

Saya pernah membaca sebuah kisah. Tentang seorang ksatria yang mengikuti lomba memanah. Lawannya adalah juara memanah tahun sebelumnya. Pertandingan berjalan seru hingga akhirnya tiba pada babak final. Sang ksatria berhadapan dengan juara bertahan. Peraturannya sederhana, siapa yang paling mendekati titik tengah sasaran dalam 3 tembakan, adalah pemenangnya. Dua tembakan telah dilepaskan oleh masing-masing peserta, sang ksatria dan sang juara bertahan. Tembakan terakhir dilakukan oleh sang juara bertahan, dan itu adalah tembakan yang nyaris sempurna mengenai titik tengah.

Menjelang tembakan terakhir, sang ksatria mendatangi guru memanahnya. Dia berkata : “Guru, saya tidak mungkin menang dalam pertandingan ini”. Tetapi sang guru berkata : “Muridku, ini aku membawa sebuah cincin ajaib. Cincin ini adalah pusaka turun temurun. Siapapun yang memakai cincin ini akan mampu menembakkan panahnya tepat ke sasaran. Ini pakailah, engkau pasti menang”.

Sang ksatria mengambil cincin itu dan memakainya. Dia maju ke tengah gelanggang, menarik busurnya, membidik … dan … tsiiinggg. Anak panah itu menancap tepat di titik tengah dari lingkaran! Semua orang bersorak, dan ksatria itu menjadi juara dalam lomba memanah. Dia diangkat menjadi jendral dalam pasukan kerajaan.

Setelah lomba itu berakhir, segeralah sang ksatria menghadap gurunya: “Guru terima kasih atas cincin pusaka itu. Hasilnya sungguh luar biasa!” Sang guru hanya tersenyum dan berkata: “Anakku, cincin itu hanyalah cincin biasa yang aku beli di pasar loak pada perjalanan kita ke kota raja ini. Kepercayaan dirimulah yang membuatmu berhasil menembakkan panahmu tepat di tengah sasaran. Mulai hari ini ingatlah, jangan ragukan dirimu sendiri!” Betapa sering kita seperti sang ksatria tadi.

Kita merasa percaya diri hanya kalau memegang “cincin”, yang barangkali berupa jabatan, dukungan orang lain, kekayaan, ketenaran, status sosial, atau gelar akademis. Kepercayaan diri yang seperti itu adalah semu (pseudo).

Kepercayaan diri yang sebenarnya berakar dan tumbuh dari dalam diri kita sendiri.

Seperti guru tadi, saya ingin berbagi cincin percaya diri versi saya.

Cincin itu setidaknya terdiri dari 4 batu permata yang sangat berharga.

Batu Pertama : Penerimaan Diri

Banyak orang yang membiarkan penilaian orang lain menjadi pengukur harga dari dirinya. Akibatnya banyak orang menjadi tertekan oleh keinginan agar “nampak baik” di pandangan orang lain, tanpa menyadari bahwa sebenarnya yang harus pertama menyadari “kebaikan” itu adalah dirinya sendiri. Kita perlu menyadari keunikan kita.

Setiap orang adalah unik karena kelahirannya, pengalamannya, pengetahuannya, pertemanannya, dan banyak faktor lain. Boleh-boleh saja saling membandingkan kemajuan, tetapi jangan sampai tertekan atau ditekan oleh perbandingan itu. Anda punya keunikan sendiri dan keunikan itu punya tempatnya sendiri di dunia, maka kembangkanlah itu. Inilah prinsip orisinalitas.

Selain itu, banyak juga orang yang tertekan oleh keinginan untuk menjadi sempurna. Sempurna adalah milik Allah. Milik kita bukan menjadi sempurna tetapi kita berhak untuk menjadi istimewa (special). Setiap orang memiliki kesempatan untuk mengembangkan bakat-bakat dan keterampilan-keterampilan hidup yang berbeda-beda. Itu membentuk kita menjadi istimewa, sekaligus membuat kita jadi saling membutuhkan karena kita tidak pernah bisa menguasai semua hal. Ini adalah prinsip keistimewaan.

Kepercayaan diri harus dibangun dengan tindakan rutin untuk memeriksa diri kita, dan mengakui bahwa kita selalu memiliki sisi yang kuat dan sisi yang lemah. Tugas kita adalah menggunakan sisi yang kuat untuk kebaikan sebanyak mungkin orang, dan mencari sahabat yang bisa membantu mengurangi, mengatasi atau mengalahkan sisi lemah kita. Ini adalah prinsip evaluasi.

Batu Kedua : Latihan Harian

Saya pernah mendengar cerita tentang seorang kakek yang bercerita kepada cucunya : “Ada dua serigala hidup dalam diri kita. Yang satu serigala jahat, yang satu serigala baik”. Lalu cucu itu bertanya : “Yang mana yang akan menang, Kek?” Dan jawabnya adalah : “Serigala yang kamu beri makan. Itu yang akan menang”

Ya, karakter yang percaya diri, adalah serigala yang harus diberi makan.

1. Jiwa butuh makan : membangun kesadaran diri dan menghargai diri sendiri melalui sikap-sikap positif setiap hari adalah makanan jiwa yang membentuk identitas. Pribadi yang memandang jiwanya secara positif akan penuh kepercayaan diri.

2. Hati butuh makan : mencari dan mengikatkan diri pada panggilan hidup yang mulia memberi gairah. Pribadi yang bergairah akan penuh percaya diri.

3. Pikiran butuh makan : pikiran yang diisi dengan pengetahuan dan wawasan yang luas akan menjadi bijak. Pribadi yang kaya pengetahuan dan bijak akan percaya diri.

4. Karisma butuh makan : membangun nama baik tidak bisa sekejap mata, melainkan harus dari tindakan konsisten terus menerus untuk bisa dipercaya dan berbuat baik bagi orang lain. Pribadi yang memiliki nama baik akan penuh percaya diri.

5. Keterampilan butuh makan : latihan rutin menambah jam terbang dan sikap berani mencoba membuka kesempatan. Semua ini membuat kita menjadi ahli. Pribadi yang ahli akan penuh percaya diri.

Betapa sering kita mengandalkan seminar-seminar dari para motivator untuk menjadi percaya diri, tetapi malas untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) harian kita. Serigala baik itu harus diberi makan setiap hari.

Batu Ketiga : Kesiapan

Satu kunci kesuksesan adalah percaya diri.

Satu kunci percaya diri adalah persiapan

- Arthur R. Ashe, Atlit Tenis Amerika

Betapa sering kepercayaan diri kita dirusak oleh gangguan-gangguan kecil karena kurangnya persiapan. Memahami situasi yang harus kita hadapi, tugas yang harus kita selesaikan, orang-orang yang harus kita temui dan alat-alat yang harus kita gunakan, menentukan keberhasilan kita menyelesaikan suatu tugas dengan penuh percaya diri. Maka, sebelum kita melakukan apapun kewajiban itu, presentasi, khotbah, memimpin rapat, memberi sambutan, jumpa pers, jumpa fans, dan sebagainya, lakukanlah pemeriksaan terhadap persiapan kita.

Setelah persiapan mendasar selesai kita lakukan, persiapkan juga penampilan kita. Siapkan fisik kita agar fit dan prima, siapkan keterampilan bahasa tubuh kita agar semakin kuat pesan yang hendak kita sampaikan, siapkan busana dan perlengkapan kita agar memberi kesan menarik.

Batu Keempat : Pertunjukkan

Kalau memang anda sudah tiba pada saat pertunjukkan, panggung adalah milik anda. Tidak perlu lagi menoleh ke kiri kanan mencari persetujuan. Tidak perlu lagi bertanya-tanya apa yang harus dilakukan. Inilah waktunya. This is showtime.

Apapun kegiatan yang membutuhkan kepercayaan diri : presentasi, khotbah, sambutan, memimpin rapat, menjadi juru bicara, bertemu pejabat, apapun itu, itulah showtime anda. Percayailah diri sendiri, semua latihan yang sudah dilakukan dan semua persiapan yang sudah diperbuat. Tampillah lepas. Apapun yang ingin dikatakan, katakan. Apapun yang ingin dilakukan, lakukan. Apapun yang ingin ditunjukkan, tunjukkan. Anda sudah berlatih keras dan bersiap sungguh-sungguh, jangan ditahan-tahan lagi.

Kalau toh akan ada evaluasi atas pertunjukkan, biarlah batu kita putar kembali ke batu pertama … yaitu penerimaan akan diri sendiri, termasuk memeriksa diri sendiri.

Jadi terimalah keistimewaan diri

Latihlah diri setiap hari

Siapkan diri dengan rapi

Pertunjukkanlah kemampuan diri dengan lepas

Bentuklah dirimu setiap hari, itulah cincin percaya diri yang sebenarnya.

Salam,

Ary Nugroho

Enam Kata Mematikan

Orang bijak berkata-kata karena mereka mempunyai sesuatu yang penting untuk dikatakan.

Orang bodoh berkata-kata karena mereka merasa harus bicara.

- Plato

Saya pernah mendapatkan cerita tentang seorang raja yang bermimpi. Raja ini memiliki dua orang saudara yang sangat dicintainya. Suatu hari dia bermimpi bahwa gapura di gerbang istananya roboh. Kedua-duanya roboh dalam waktu singkat. Maka raja ini gelisah dan ingin mengetahui mimpinya. Dia pertama memanggil menterinya yang tercerdas. Orangnya masih muda. Menteri ini langsung berkomentar atas mimpi raja : “Tuan, mimpi tuan itu berarti, kedua saudara tuan akan mati dalam bulan ini”. Raja mendengar hal itu menjadi sangat kecewa dan marah dalam hatinya, mengapa menterinya mendoakan kematian saudara-saudara yang dikasihinya. Raja menghukum menteri muda ini dengan hukuman mati.

Tetapi kegelisahan raja belum hilang. Dipanggilnyalah seorang penasehat tua. Penasehat ini adalah penasehat yang dipercaya ayahnya, raja sebelumnya. Penasehat ini, demi mendengar apa yang dikatakan raja tentang mimpinya, berkata : “Tuan, tuan patut bersyukur karena tuan diberi berkah oleh penguasa semesta dengan umur yang akan jauh lebih panjang dari semua saudara-saudara tuan”. Raja ini senang akan jawaban sang penasehat, dan dianugerahkanlah jabatan Menteri Utama dengan segala hadiah-hadiah kepada sang penasehat.

Dua jawaban ini artinya tetap sama, saudara raja akan mati lebih dahulu dari raja. Tetapi penyampaiannya berbeda, yang satu menyampaikan dengan bodoh, yang satu menyampaikan dengan bijak. Seperti kata pepatah mulutmu adalah harimaumu !

Saya memikir-mikir setidaknya ada enam kata mematikan, yang dapat menghancurkan hubungan kita dengan orang-orang yang berarti bagi kita, dengan sesama kita :

1. Kata-kata dusta (lie, lying). Sering kita mencoba untuk menutup-nutupi kenyataan, dengan harapan keadaan bisa lebih menguntungkan kita. Tetapi kenyataannya, kita sedang menabung kekecewaan bagi orang lain dan menabung kehancuran bagi hubungan-hubungan kita. Kita butuh kata-kata jujur (honest).

2. Kata-kata hinaan (insult, insulting). Tidak ada orang yang mau direndahkan, maka kata-kata hinaan biasanya akan memicu pertengkaran yang pasti akan merenggangkan hubungan-hubungan. Betapa sering kita tidak mengendalikan kata-kata kita di saat sedang marah, dan ketika marah itu tertuju kepada orang-orang yang secara status sosial berada di bawah kita, muncullah kata-kata merendahkan yang bersifat menghina itu. Sementara kita tidak tahu bahwa di kemudian hari, orang-orang yang kita hina mungkin saja menjadi orang-orang yang mampu menyelamatkan hidup kita. Kita butuh kata-kata yang memotivasi (motivating).

3. Kata-kata sombong (boasting). Betapa sering kita mendominasi pembicaraan dengan menceritakan kehebatan-kehebatan kita, tanpa mau mendengar kehebatan-kehebatan orang lain. Orang akan segera jenuh dengan kata-kata sombong kita. Tuntutan atas ujar kita yang “besar” juga akan besar, dan ketika kita tidak berhasil melakukannya, orang akan mencerca nama kita. Kesombongan menjauhkan orang dari kita. Kita butuh kata-kata yang rendah hati (modest).

4. Kata-kata sinis (cynic). Nah ini mungkin bagian dari budaya tertentu. Ada orang-orang yang tidak menghina secara langsung, tetapi menghina dengan cara yang sinis. Misalnya dia berkata : “ya deh kita tau kok kalau kamu baik, kamu paling baik lah di antara kita” (tetapi nadanya tinggi dan tidak bersahabat). Kata-kata sinis menunjukkan sikap kita yang tidak tulus. Orang akan cepat menangkap maksud tersembunyi dari kata-kata sinis dan menjauhi kita karena maksud kita yang tidak tulus itu. Kita butuh kata-kata yang tulus (sincere).

5. Kata-kata kotor (dirty). Jenisnya banyak mulai dari “kebun binatang” (entah mengapa orang suka menjelekkan orang lain dengan memanggil binatang-binatang tertentu), juga kata-kata yang bersifat pelecehan seksual (menyebut bagian-bagian tubuh secara tidak pantas), atau jenis-jenis makian lainnya. Anehnya banyak orang yang latah mengucapkan kata kotor ini seolah-olah sudah menjadi bagian dirinya. Dia makan enak juga keluar kata kotor, tidak enak juga keluar. Dia menang di permainan sepak bola keluar kata kotor ini, apalagi tidak menang. Kata-kata kotor ini sepintas membuat kita nampak “gagah” atau “gaul” tetapi sebenarnya menurunkan derajat kita sebagai orang-orang yang tidak punya sopan santun. Orang akan menjauh dari mereka yang gemar memaki. Kita butuh kata-kata yang santun (polite).

6. Kata-kata bodoh (stupid). Bodoh di sini bukan dimaksudkan untuk kata-kata yang salah pengucapan. Bodoh di sini dimaksudkan untuk orang-orang yang mengucapkan dengan tidak tepat tempat, tidak tepat waktu dan tidak tepat orang. Barangkali kisah raja dan para menterinya di atas adalah gambaran yang tepat. Betapa sering kita tidak bisa menempatkan diri dalam berbicara, sehingga kita salah tempat, salah waktu dan salah orang untuk menyampaikan maksud hati kita. Akibatnya, bukan hasil positif yang kita peroleh justru kerenggangan hubungan. Kita butuh kata-kata yang bijak (wise).

Tentu saja seperti kata Plato tadi, kata-kata kita diproduksi oleh pikiran kita. Pikiran kita diisi oleh informasi yang kita masukkan setiap harinya. Maka jika kita tidak ingin mulut kita menjadi harimau yang memangsa kita, kita perlu memperhatikan informasi apa saja yang kita biarkan masuk dalam otak kita setiap harinya dan pikiran apa saja yang kita biarkan menjelajah di otak kita setiap harinya.

Semoga kata-kata kita membawa kebaikan bagi orang lain, yang sudah pasti membawa kebaikan bagi diri kita sendiri.

Salam,

Ary Nugroho

Identitas Aksesoris

Sebuah kutipan dari Chuck Palahniuk (seorang penulis sastra Amerika, lahir 1961) berkata :

“If you wake up at a different time, in a different place, could you wake up as a different person?”

Pertanyaan yang sangat menarik!

Di tengah masa kampanye para calon legislatif, marak dijumpai iklan diri para caleg yang miskin identitas. Ada yang membawa-bawa anaknya, seorang artis, untuk memberikan penguatan terhadap identitas dirinya : “pilihlah saya, papanya artis terkenal”. Ada yang membawa nama suaminya, “pilihlah saya, isterinya mas ini”. Ada yang membawa nama nenek moyangnya, “pilihlah saya, keturunan kesekian dari sultan itu”. Bahkan, barangkali karena bingung mencari gantungan identitas yang menawan, caleg-caleg “tak dikenal” ini mencoba “numpang terkenal” dengan membawa-bawa nama pesohor sepak bola David Beckham atau christiano Ronaldo, bahkan Presiden Amerika Barrack Obama. Entah apa hubungan keluarga mereka dengan para pesohor itu sehingga berani mencantumkan foto dan statement dukungan dalam poster-poster besar yang mereka pajang di tengah jalan.

Apakah memang identitas kita harus di-dopping sedemikian?

Tak jarang juga dalam perbincangan sehari-hari, kita menjumpai kalimat-kalimat kebanggaan semu seperti ini : “nah, kenalkan ini mas tikus, anaknya pak tikus yang punya pabrik besar di situ”, “eh, itu tuh si kucing, anaknya jendral kucing penggede di mabes”, atau “udah kenal belum dengan anjing, itu tuh anaknya ibu anjing yang anggota DPR RI”. Hmmm, sebenarnya apakah dengan menempelkan nama besar orang tuanya, anak-anak itu otomatis menjadi hebat? Nampaknya ada krisis identitas.

Identitas tempelan macam ini saya sebut sebagai IDENTITAS AKSESORIS.

Layaknya sebuah aksesoris, identitas ini menempel karena diberikan, diambil dari orang lain dan dipasangkan pada diri kita, serta merubah penampilan hanya tidak merubah diri kita yang sebenarnya. Identitas aksesoris ini bisa dicomot dari keturunan, jabatan, kekayaan, pekerjaan, pendidikan, dan hal-hal lain yang bersifat status sosial seseorang yang “kebetulan” ada hubungan dengan si pribadi tersebut, entah hubungan sebagai orang tua, anak, kawan, bahkan barangkali tetangga.

Tidak ada yang dapat menyalahkan penggunaan identitas aksesoris ini, tetapi orang yang membentuk dirinya menggunakan identitas aksesoris akan terserang PENYAKIT LABIL DIRI. Di saat bertemu dengan orang yang punya aksesoris lebih hebat, dia akan tertunduk. Malu, minder, kalah. Di saat bertemu dengan orang yang punya aksesoris lebih rendah, dia akan membungah. Sombong, arogan, sok hebat.

Inilah barangkali yang menyebabkan kita bisa begitu mudah meremehkan seorang bertampang kumal, dan menghormati orang berpakaian necis. Karena kita melihat aksesoris. Kita bisa begitu mudah meremehkan orang yang hanya lulusan SMA, serta mengangguk-angguk kalau orang yang berbicara lulusan doktor, apalagi dari luar negeri. Karena kita melihat aksesoris.

Padahal, apakah selalu orang bertampang kumal itu lebih tidak mampu daripada yang berpakaian necis? Jangan-jangan si necis adalah copet di bis transjakarta, dan si kumal adalah peneliti besar? Apakah selalu si lulusan SMA lebih bodoh dari si lulusan luar negeri? Jangan-jangan si lulusan SMA adalah direktur yang mempekerjakan si lulusan luar negeri!

Ada jenis identitas lain yang bukan sekedar tempelan, tetapi tertanam di dalam diri seseorang yang hidup dengan kesadaran.

Identitas kesadaran ini saya sebut sebagai IDENTITAS PRINSIPIIL.

Identitas prinsipiil dibentuk dari idealisme seseorang. Idealisme seseorang dibentuk dari pengalaman pembelajaran hidup yang menghasilkan nilai-nilai luhur dan tujuan-tujuan besar dalam hidup.

Tidak akan ada yang peduli siapakah ayah atau ibu dari Mahatma Gandhi. Tetapi idealisme Gandhi telah membuktikan siapakah dirinya. Tidak akan ada yang peduli siapakah kawan-kawan Martin Luther King, Jr. Tetapi idealisme King telah membuktikan siapakah dirinya. Tidak akan ada yang peduli apa status sosial Soekarno, tetapi idealisme Bung Karno membuatnya pantas disebut sebagai Bapak Bangsa, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia.

Saya pikir, kita perlu belajar — dan perlu mengajar anak-anak kita, untuk tidak hidup sebagai pembonceng. Jika kita mendapat anugerah aksesoris yang kuat, biarlah itu menjadi keuntungan yang kita syukuri. Tetapi jangan kita gunakan terus menerus sehingga kita lupa melatih diri kita sendiri untuk menjadi besar. Sebaliknya, kita butuh berpaut pada idealisme pribadi yang kuat, yang tidak akan membuat kita gentar pada aksesoris orang lain yang gemerlap, dan juga tidak membuat kita arogan kepada orang lain yang aksesorisnya kurang benerang.

Marilah kita melewati jalan orang-orang besar :

Yang berani berjalan sendirian, untuk sebuah tujuan

Yang selalu memeriksa diri dengan keras, untuk sebuah kemajuan

Yang jujur pada diri sendiri, untuk sebuah kebenaran

Yang suka belajar pada siapapun, untuk sebuah pengetahuan

Yang bersungguh-sungguh, untuk sebuah pencapaian

Ah, andai saja caleg-caleg yang sedang berlomba dalam hajatan nasional, adalah pribadi-pribadi kuat yang menceritakan identitas prinsipiilnya, dan bukan identitas aksesorisnya, tentu pemilu 2009 ini akan sangat menarik untuk diikuti. Sayang sekali tidak demikian.

Salam keberanian,

Ary Nugroho

Kemaren waktu saya membuka-buka buku Singing The Living Tradition, saya mendapatkan sebuah puisi dari penulis tak dikenal (anonymous) yang berjudul To Risk

To Laugh is to risk appearing the fool

To weep is to risk appearing sentimental

To reach out for another is to risk exposing our true self

To place our ideas – our dreams – before the crowd, is to risk lost

To love is to risk not being loved in return

To hope is to risk despair

To try is to risk failure

To live is to risk dying

(Untuk tertawa ada resiko nampak bodoh

Untuk menangis ada resiko terlihat sentimentil

Untuk terbuka bagi orang lain ada resiko membuka rahasia diri sendiri

Untuk mengenalkan ide kita, mimpi kita, kepada orang banyak ada resiko idenya dicuri

Untuk mencintai ada resiko cinta tidak berbalas

Untuk berharap ada resiko kecewa

Untuk mencoba ada resiko gagal

Untuk hidup ada resiko mati)

Sering sifat alamiah kemanusiaan kita mengharapkan kehidupan yang sepenuhnya aman dan damai tanpa resiko berbenturan dengan orang lain, tanpa resiko kerugian materiil, tenaga atau waktu, tanpa resiko pengorbanan.

Siapa juga sih yang sebenarnya mau hidup dipersulit dengan semua resiko itu?

Sayangnya, tidak ada hidup yang tanpa resiko.

Hidup itu rangkaian pilihan, dan setiap pilihan adalah tebakan terbaik kita mengenai masa depan, dan sayangnya kita tidak pernah benar-benar menebak masa depan dengan tepat. Tanpa akurasi tebakan masa depan, hidup adalah rangkaian pilihan dan resiko.

Seringkali terjadi, orang menghindari suatu resiko – entah karena takut, entah karena kuatir, entah karena merasa tidak enak hati – dan ternyata justru masuk ke dalam keadaan yang jauh lebih berat resikonya. Bayangkan saja seorang ayah yang tidak dapat membayar uang sekolah anaknya tiga bulan. Dia menghadapi resiko anaknya dikeluarkan dari sekolah. Gantinya mencari metode lain, seperti mencari kerja tambah, mencari beasiswa atau menjadi peserta sekolah rumah, mungkin si ayah akan menghindari resiko “kesulitan” yang kecil ini dengan resiko lain yang lebih besar seperti korupsi, mencuri atau merampok, tanpa benar-benar sadar bahwa resiko yang ditempuhnya lebih besar.

Maka hidup berdamai dengan resiko adalah hidup yang memiliki kesadaran. Kesadaran akan nilai-nilai luhur yang kita ingin hidupkan. Kesadaran akan panggilan hidup kita.

Karena hidup ini beresiko, maka lebih baik hidup ini sekalian dijalani dengan penuh nilai yang luhur dan mulia.

Stephen Covey pernah menuliskan untuk memulai segala sesuatunya dengan melihat akhir dari segala sesuatunya. Itu adalah nasihat yang sungguh bijak. Hidup harus dibangun dengan menetapkan dulu tujuan akhir yang ingin kita dapatkan. Saya pernah menulis sebelumnya seperti apakah anda ingin dicatat ketika anda mati? Saya menulis dalam artikel itu, saya ingin mati dalam keadaan bangga, tenang dan bahagia. Itulah tujuan saya di akhir hidup, maka saya akan memulai kehidupan untuk mencapai keadaan itu. Untuk menjadi bangga, tenang dan bahagia, saya akan hidup dengan idealisme akan nilai-nilai positif dan panggilan hidup yang mulia; saya akan hidup dengan keterampilan yang terasah baik; saya akan hidup dengan kebijaksanaan.

Maka hidup saya akan saya jalani dengan menarik sebuah garis lurus akan pilihan saya terhadap idealisme, keterampilan dan kebijaksanaan hidup untuk menuju akhir yang membanggakan, menenangkan dan membahagiakan. Dan jika ada resiko-resiko di tengah perjalanan untuk meraihnya, saya akan bersahabat dan menghadapi resiko-resiko itu tanpa keluh kesah, karena saya sungguh-sungguh tahu untuk apa saya membayar harga resiko-resiko itu.

Semoga kehidupan anda juga dipenuhi dengan kesadaran, agar hidup tidak hanya diombang-ambingkan oleh keinginan untuk menghindar dari satu resiko ke resiko yang lain, tetapi hidup dipenuhi dengan pandangan ke depan yang akan siap dan bijak untuk bergandengan dengan resiko-resiko itu.

Salam keberanian,

Ary Nugroho

Ranjang Kematian

Kemaren saya sempat buka-buka Novel Sejarah, Taiko, karya Eiji Yoshikawa lagi. Trus entah kenapa perhatian saya tertuju pada kematian Oda Nobunaga di kuil Honno di dekat Kyoto. Pengkhianatan si “kepala jeruk” Akechi Mitsuhide yang dipercaya oleh Nobunaga memang menjadi penyebab utama kematian itu. Tetapi yang mengesankan, untuk kesekian kalinya saya bertemu dengan sajak favorit Nobunaga :

” A man’s life of 50 years under the sky,

is nothing compared to

the age of this world.

Life is but a fleeting dream, an illusion —

Is there anything that lasts forever? “

(Hidup manusia di bawah langit, hanya 50 tahun

Tak ada artinya dibandingkan umur dunia

Hidup hanyalah mimpi yang berlalu cepat,

sebuah bayang semu

Apakah ada yang bertahan abadi?)

Nobunaga benar. Hidup sangat singkat. Semua yang kita raih dalam dunia ini harus kita tinggalkan. Kalau gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan kulit, manusia mati hanya meninggalkan nama.

Saya terpikir, apa yang mau saya miliki ketika saya harus terbaring di ranjang kematian, entah di usia 50 tahun seperti Oda Nobunaga, atau di usia 90 tahun (soalnya nenek saya 90 tahun saja masih sehat sentosa :p ).

Saya terbayang bahwa tidak ada milik materiil yang bisa saya bawa.

Saya terbayang bahwa tidak ada kekasih yang bisa saya ajak.

Saya hanya membawa diri saya sendiri dengan perasaan yang menjadi kesimpulan saya akan kehidupan saya.

Maka saya ingin, ranjang kematian saya diisi dengan 3 perasaan. Ketiga perasaan ini harus menjadi kesimpulan hidup saya :

Saya ingin mati dengan perasaan bangga. Perasaan bangga bahwa saya sudah hidup memperjuangkan idealisme yang saya anggap benar. Perasaan bangga bahwa saya mempertahankan nilai-nilai positif. Perasaan bangga bahwa saya telah menemukan sesuatu yang berarti, yang telah saya kerjakan sebaik mungkin di dunia. Perasaan bangga bahwa saya telah memberi kontribusi bagi masa depan dunia.

Saya ingin mati dengan perasaan tenang. Tenang karena saya siap mempertanggung jawabkan semua sikap, tindakan dan perkataan saya di hadapan khalik yang Mahatahu. Tenang karena saya telah mewariskan nilai-nilai yang baik kepada anak-anak saya. Tenang karena kematian bagi saya adalah garis akhir dari sebuah pertandingan yang telah saya lalui sebaik mungkin.

Saya ingin mati dengan perasaan bahagia. Bahagia untuk cinta yang saya temukan di sepanjang hidup saya. Bahagia untuk keluarga yang telah mengasihi dan saya kasihi. Bahagia untuk kebenaran dan iman yang saya pelihara. Bahagia untuk menemukan kesadaran akan makna kehidupan.

Mati dengan bangga, tenang dan bahagia. Barangkali itulah jawaban saya untuk syair Nobunaga. Hidup itu singkat, layak untuk dihargai dan digunakan dengan sebaik-baiknya.

Salam kebijaksanaan,

Ary Nugroho

Hidup Berkelimpahan

Karunia terbesar yang diberikan Khalik kepada kita adalah kehidupan.

Sayangnya tidak setiap orang menghargai kehidupan itu. Sebagian orang akan menjalani kehidupan dengan penuh penyesalan, sebagian yang lain penuh kebingungan, dan sebagian yang lain penuh kesia-siaan.

Hidup manusia yang berkelimpahan tidak hanya sekedar ketika kita dapat memenuhi semua kebutuhan biologis kita, makan, minum, tempat tinggal, bertumbuh, bergerak, dan bereproduksi. Kalau hanya demikian halnya, apa bedanya manusia dengan binatang? Hidup manusia yang berkelimpahan adalah kehidupan yang dapat mendengar dan menjawab panggilan-panggilan batinnya sehingga jiwa terpuaskan. Manusia tidak dapat hidup hanya dengan memuaskan diri pada ambisi-ambisi fisiknya, kecantikan, kekayaan, kekuasaan; tetapi kehidupan yang hebat ditemukan ketika seorang manusia mengenal dirinya, dan hidup dengan jiwa.

Saya ingin berbagi sedikit 3 perenungan saya tentang kehidupan, ketika saya bertanya-tanya apa makna kehadiran saya dalam kehidupan ini? Apa yang membuat saya berarti ketika kelak saya mati? Apa yang akan saya wariskan kepada generasi selanjutnya?

Pertama, kehidupan itu harus layak dijalani. Layak dijalani bukan mengenai apa yang kita bawa dari masa lalu kita, tetapi tentang apa yang dapat dilakukan oleh jiwa kita. Manusia membutuhkan idealisme. Idealisme adalah konsep mulia yang olehnya kita ingin mewujudkan sebuah dunia yang lebih baik. Agar kehidupan layak dijalani, kita membutuhkan idealisme.

Idealisme pribadi terbagi menjadi : tujuan hidup (the purpose of life) dan nilai-nilai hidup (values of life).

Kedua, kehidupan itu harus mampu dijalani. Kehidupan dapat berubah-ubah dari musim semi yang lembut menjadi musim dingin yang kejam. Seorang manusia hebat harus memiliki alat untuk menghadapi setiap musim. Inilah keterampilan hidup. Agar hidup mampu dijalani, kita butuh keterampilan hidup.

Keterampilan hidup ada 4 yaitu : keterampilan batin (spiritual skill), keterampilan sosial (social skill), keterampilan pribadi (self-skill) dan keterampilan khusus (special skill). Inilah 4S keterampilan hidup.

Ketiga, kehidupan itu harus dijalani dengan indah. Hidup tidak menyajikan kesempurnaan. Ketika kita menghadapi ketidak sempurnaan itu dengan tidak bijaksana, maka hidup akan terasa pahit dan menyakitkan. Hidup hebat membutuhkan kebijaksanaan agar menjadi indah.

Kebijaksanaan hidup terdiri dari 7 unsur : keberanian (bravery), keteguhan hati (perseverance), rasa syukur (gratitude), cinta (love), sukacita (joy), pengharapan (hope), dan pengampunan (forgiveness).

Saya gembira dapat berbagi 3 elemen hidup hebat ini kepada anda … hidup berkelimpahan adalah jika kita menemukan bahwa hidup ini yang layak dijalani, mampu dijalani dengan baik, dan dijalani dengan indah.

Apakah anda sudah benar-benar hidup berkelimpahan?

Salam,

Ary Nugroho

Selamat Datang

Ketika saya mencoba untuk memulai menulis di blog ini, bulan Oktober 2008, tepat pada ulang tahun saya, saya dipenuhi dengan gairah untuk menulis. Entah mengapa bulan-bulan berikutnya, semangat itu menurun. Setiap kali hendak memulai menulis sebuah artikel atau perenungan, rasa malas muncul. Apalagi kunjungan ke blog ini masih sangat sedikit. Rasanya percuma kalau tidak ada yang baca.

Tapi sebenarnya tidak ada yang percuma bukan? Percuma itu hanyalah petunjuk palsu dalam jalan kehidupan. Salah satu resolusi saya tahun 2009 adalah mengumpulkan keping demi keping pengalaman dan pengetahuan, karena semua keping itu, besar kecil, berguna bagi saya dan orang banyak. Tidak ada waktu untuk berhenti belajar, termasuk belajar menulis.

Maka, selamat datang di blog Menelusuri Jalan Hikmat yang diperbaharui. Saya akan mencoba sebisa mungkin untuk berbagi secara rutin di blog ini.
Semoga bermanfaat.

Semangat penuh,

Ary Nugroho